Mengapa Zero Waste?

IMG-20171013-WA0013
Belanja di supermarket pakai tas jaring bawa sendiri. Idenya muncul karena jengah setiap pulang dari belanja pasti bawa pulang pembungkus plastik yang nggak tau mau diapain kecuali dibuang. 

Zero Waste atau ZW atau bahasa Indonesianya nol sampah bisa dilaksanakan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak sampai manula. Tidak seideal proyek-proyek ekologis lainnya yang tidak bisa dijangkau oleh semua kalangan (misal: jadi vegetarian atau vegan, makan hanya bahan makanan organik, menanam sayuran sendiri di kebun), nol sampah sangat mudah dan menyenangkan, serta mendorong kreatifitas.

Nol sampah sangat relevan saat ini karena permasalahan sampah di negara kita cukup memprihatinkan. Daripada membuat sampah yang tidak bisa kita olah secara bijaksana, mengapa tidak kita nggak nyampah saja? Jangan menunggu sampahnya muncul di depan mata, tapi sebisa mungkin menghindarkan supaya sampah itu tidak ada. Caranya ya dengan menerapkan nol sampah. Logis, kan?

Zero Waste di Indonesia sebenarnya sudah cukup banyak penganutnya tapi seperti isu-isu lingkungan lainnya, gerakan ini belum menjadi kesepakatan bersama. Masih terlalu banyak orang yang kurang peduli terhadap masalah lingkungan, padahal pasti kita semua membuat sampah. Seperti semua makhluk hidup lainnya, kita menghasilkan limbah atau buangan. Sejak lahir juga udah nyampah, gampangnya. Tapi sampai saat ini kita tidak pernah memikirkan ke mana perginya sampah-sampah yang kita hasilkan. Kita punya langganan tukang sampah yang dibayar setiap bulan. Tiap hari dia datang mengangkat sampah kita dan voila, beres masalahnya. Apakah benar begitu? Tentu tidak. Sampah itu akhirnya mendarat di tempat pembuangan sampah. Yang bisa didaur ulang ya diambil oleh pengepul. Yang tidak? Numpuk entah berapa lama. Pernah lihat pemandangan sapi-sapi makan plastik di TPA, kan? Nah…

Karena saya nggak mau makan sayur atau daging yang sudah tercemar sampah, makanya saya mau mengurangi produksi sampah saya sekeluarga. Dengan zero waste, saya berdoa supaya sampah yang ada di alam ini akan berkurang, supaya sayuran dan buah yang saya makan adalah yang tumbuh di tanah yang bersih dan bebas pencemaran, supaya daging sapi, ayam, ikan yang saya makan adalah hewan yang sehat dan tidak makan plastik, supaya saya juga sehat. Itulah doa saya setiap kali berhasil mengurangi plastik. Bisa dibilang nge-zero waste adalah bagian dari kehidupan spiritual kita.

Tentu saja saya tidak bisa 100% bebas sampah. Semua yang saya lakukan sebagai makhluk hidup pasti menghasilkan sampah. Bahkan Bea Johnson (praktisi Zero Waste dari US yang setahun hanya menghasilkan 1 toples sampah) saja “nyampah” ketika dia terbang ke seluruh penjuru dunia naik pesawat untuk bicara di forum-forum ZW. Yang ingin saya sampaikan adalah bukan seberapa banyak sampah yang bisa kita hasilkan; 1 toples, 1 tong, 1 kontener, tapi APA USAHA kita untuk menuju nol sampah. Namanya menuju ya, pasti ada yang masih 10, 15, 20 atau mungkin 99% nyampah. It’s fine. We’re human. Tapi kalau kita lakukan bersama-sama, kalau 7 milyar penduduk dunia mau melakukannya, wah…dunia ini akan lebih bersih, pastinya. Yuk, nge-zero waste sama-sama!

 

 

Continue reading “Mengapa Zero Waste?”

Advertisements